Tampilkan postingan dengan label Writing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Writing. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Maret 2015

Dua Keping Kisah Lama #2

Sabtu, 29 September 2012

Tujuh bulan berlalu.. Tali pertemananku dengan Helen yang dulu sempat terputus, kembali ku ikat, benar benar erat. Perlahan tapi pasti, kami saling berbagi, sebagai sahabat. Helen sendiri yang memintaku begitu, sama halnya yang ia lakukan dengan si Mumun yang ada di dunia maya. Kini, ia dan Mumun tak lebih dari kata kakak dan adik. Begitu akrab. Ia ingin aku begitu, ia bisa mengandalkanku dikala ia butuh, begitu juga denganku. Paling tidak ia tak terlihat seperti mengharapkanku. Lagipula, selama ini aku tidak menyesal bersahabat dengannya, sungguh. Helen sangat menyenangkan.

Pagi ini begitu cerah, namun mulutku masih menguap lebar. Semalam pukul 11.30, aku menyelinap keluar rumah dan pergi ke rumah Asya, sendirian tanpa Helen. Karena rumah Helen terlalu jauh, dan ini tengah malam. Hanya dukungan dan doa yang ia berikan untukku. Ya, tepat 29 September, Asya berulang tahun ke 16 tahun dan kabar baiknya ia sedang tidak di Semarang. Semalam, blackforest yang sengaja kupesan di toko roti “Strawberry” ku berikan padanya. Tulisan “Happy Birthday Asya Andrian” dari cream menghiasi permukaan blackforest yang begituuuu lezat. Beruntunglah, aku tak perlu bertemu orang tuanya dulu untuk bertemu Asya. Dia sendiri yang membuka pintu. Ia terlihat begitu berbeda, meskipun masih memakai piyama bercorak kartun Snoopy, ia masih tetap cantik. Ah, Asya tak pernah sedetikpun terlihat tak cantik. Rambutnya yang dulu pendek sebahu kini panjang melebihi rambut Helen. Wajahnya memancarkan sinar kedewasaan. Matanya semakin berkilau. Ia bahagia, sekaligus kaget. Karena aku tak memberitahu kedatanganku sebelumnya, tentu saja karena ini semua ide Helen demi kejutan untuknya.

Dua Keping Kisah Lama #1

Note; cerpan ini dibuat pas kelas 10, pas jaman alay alaynya. Overall, ceritanya panjang banget dan boring. Ga ada gregetnya di alurnya, ya whatever jaman kelas 10 masih labil labilnya haha. Beberapa plot disini gabungan dari pengalaman nyata, makanya absurd.


“Kepingan Alan”

Senin, 30 Januari 2012 “Namanya Asya. Dia cantik, rambutnya panjang, keturunan setengah Jawa dan setengah Cina dan tentunya dia muslim. Aku mencintainya, sungguh. Tiga tahun yang lalu, aku mengungkapkan semua yang ku rasakan. Betapa aku menyayanginya. Dan dengan senyum yang teramat manis, ia menjawab ‘ya’. Singkat, tapi cukup untuk meledakkan hatiku. Sejak itu, kami berpacaran, lamanya dua tahun. Saat kami melanjutkan sekolah ke jenjang SMA, kami berpisah, ia berusaha menggapai cita citanya dengan bersekolah di SMK Farmasi, Semarang. Dan karena itu, kami harus mengakhiri kisah yang telah kami ukir bersama, pacaran jarak jauh pantang bagi kami. Tetapi meskipun begitu, aku tetap mencintainya.”

 Suitan terdengar membahana di kedua indra pendengarku, muka sumringah di tatapanku terlukis jelas. Semuanya kini menyorakiku. Kulangkahkan kakiku menuju bangku di temani sorakan tiada henti. Bahkan guruku Bahasa Indonesiaku, Bu Dwi, hanya nyengir kuda saat aku sibuk menghayati setiap ucapanku tadi. Ya, hari ini, Bu Dwi memberi tugas dadakan untuk menceritakan masa lalu, didepan kelas. Andre, teman sebangkuku, menceritakan bagaimana ia mempertaruhkan nyawa untuk mempertahankan seluruh koleksi komik Jepangnya dari ibunya sendiri, dan pada akhirnya ibunya menyita seluruh komik yang jumlahnya tiga kardus! Vanesa, betapa ia menyayangi ibunya. Kami semua terlarut dalam kesedihan yang ia rasakan empat tahun lalu, saat ibunya mengalami kecelakan yang hampir menyebabkan kakinya patah.

Minggu, 16 Oktober 2011

Today Was a Fairy Tale - cerpen


“Vania! Tambah powernya! Suaramu tak terdengar!”
“Bulat, Vania! Jangan malu malu buat buka mulut!”
“Astaga Vania, kau lupa lagi koreografi yang baru Kakak ajar kemarin?”

Bulat, power, koreografi menggerayangi pikiranku malam ini. Ceramah panjang nan lebar tadi sore masih terngiang jelas di indra pendengarku ini. Ya, lusa sekolahku akan mengikuti lomba Paduan Suara tingkat Kota, dan aku masih saja bergelayut dengan berbagai kesalahan. Sungguh, aku pasrah! Tak kuasa menahan rasa kecewa dan malu, didepan Kakak kakak pembina, anak anak padus apalagi didepan Fandi, orang yang kusuka akhir akhir ini, tak tau lagi dimana harus kuletakkan muka ‘upik-abu’ ini.
Ku jatuhkan diriku di hamparan rumput hijau nan luas dekat rumahku. Langit tampak kelam, tak terlihat setitikpun bintang, mungkin tak lama lagi hujan akan turun. Biarlah. Aku ingin meluapkan segala curahanku ditemani semilir angin malam.
1 menit..
5 menit…
Aku masih terpaku dengan pandangan mengarah kelamnya malam bak permadani hitam. Memutar memori flashback berbagai kejadian yang ku alami hari ini.

Andre menghilangkan penghapus kesayanganku. Nadya hampir menjatuhkan Ipod Apple-ku. Sartika mendapat nilai perfecto di test matematikanya, berbeda sekali denganku yang mendapatkan nilai kursi terbalik. Fandi yang cuek sama sekali tak menyapaku apalagi mengajakku ngobrol, padahal itu yang sering kutunggu setiap hari, dan berbagai macam kejadian sampai yang paling menyebalkan “Vania, si upik abu yang terpilih mengikuti lomba Paduan Suara tetapi tak pernah sekalipun berhasil menyanyi”.
Hari ini menyebalkan, memang! Tetapi tidak lagi setelah seseorang berteriak hingga membuyarkan lamunanku.
“Vania!”
Refleks aku bangun dan berdiri mencari sosok si pemilik suara tersebut.
Kuputar tubuhku dan sosok mengenakan kaos putih, berlapiskan jaket coklat, celana jeans hitam dan kacamata minus khasnya berlari tergesa gesa menghampiriku.
Astaga! Hatiku berdebar seraya deburan laut yang menghempas karang. Jantungku jumpalitan, berdetak lebih cepat dari biasanya. Mataku mengerjap membelalak tak menyangka. Mulutku kelu kala ia berhenti tepat dihadapanku dan menatapku! Dan ia tersenyum, maniiiiiis sekali, melebihi se-ton gula yang di tumpahkan di adonan kue.
“Vania, astagaaa.. apa yang kamu lakukan disini? Kau sendirian!”
“Fa-fa-fandi… apa yang kau lakukan disini?”
“Kau malah balik bertanya, aku kesini mencarimu, entahlah tiba tiba aku khawatir denganmu” kata Fandi yang membuat pipiku tak lebih dari kepiting rebus.
“Ta-tapi bagaimana kau tau aku ada disini?”
“Vania, aku tau kau kecewa karena penilaian kakak pembina tadi, dan aku tau kau pasti akan meluapkan semuanya disini”
Ku mainkan ujung syalku. Speechless!
Seorang FANDI? Yang cuek? Tak pernah sedetikpun mengajakku berbicara kalau itu bukan topik yang penting? Tiba tiba datang dihadapanku dan seolah olah mengetahui semua isi hatiku layaknya peramal? Dan yang paling mengejutkan, ia khawatir dengan AKU?!
Angin apa yang membawanya ia kemari.
“Masih berapa lama lagi kau akan terus disini?” tanya Fandi mencairkan suasana, dan mengajakku duduk
“Aku tak tau”
“Sebentar lagi hujan turun, lebih baik kau pulang daripada kau kehujanan dan jatuh sakit, mau kuantar?”
“Tidak, aku masih ingin disini”
“Ceritakanlah padaku, semua yang kau rasa, siapa tau aku bisa membantu”
“Aku kecewa, Fandi! Aku tidak bisa memberikan yang terbaik, meski aku telah berusaha. Aku tidak bisa sebagus teman teman, bahkan aku tidak lihai dalam koreografinya. Tetapi mengapa kakak pembina memilihku? Se-sepertinya aku memang harus mundur, dan digantikan oleh Lea yang bertalenta lebih baik!”
“Vania, aku tau itu. Dan kau bukannya tidak bisa, yang kuperhatikan selama ini, kau kurang percaya diri untuk menunjukkan talentamu dengan maksimal, kau pasti bisa sebagus mereka, bahkan lebih! Teruslah berusaha, tak ada yang tak mungkin bagi orang yang mau berusaha! Kau ditunjuk kakak pembina, sama sepertiku, itu berarti kita dipercaya untuk memegang amanah besar, kita dinilai mampu untuk tampil di lomba padus. Kau hanya butuh semangat dan usaha! Ayooo semangat Vaniaa!”
“Thanks a lot Fandi. You make me stronger”
“Never mind, that’s what friends are for”
“Kamu Fandi kan? Nggak biasanya ngajak bicara gini, apalagi mau dengerin cuapcuap aku, hehee tumben”
“Iyalah, aku Fandi. Aku kasihan aja sama kamu, aku tau kok kamu udah berusaha. Masih susah di bagian koreografinya ya?”
“Iya, fan”
“Aku ajarin deh sekarang, tapi rintik hujan udah mulai kerasa, bener nggak?”
“Gak peduli hujan, semangatku lagi berkobar! Ayo ajari aku Fandi!”
“Bravooo, baiklah ikuti gerakanku!”

Dan aku menari mengikutinya seiring irama hujan yang semakin lebat, langit yang semakin kelam, dan daun daun yang berterbangan menerpaku dan Fandi karena hembusan kencang angin yang tak henti.
Tetapi, bersamanya, semua hal menjadi indah. Bunga bunga bertaburan dan kupu kupu saling mengejar cinta. Gelak tawa dan senyum manisnya terekam jelas di memoriku.
Ia membantuku menggapai secercah impian di kala aku tak bisa mewujudkannya sendirian. Ialah bintang yang mengisi hatiku dan berkilau ditengah redupnya perasaanku.
Menari dibawah hujan, tertawa bersama, menyanyikan lagu adalah hal yang tak pernah bisa ku lupakan dan selalu kuputar setiap waktu tidur tiba.
Meski aku ingin selalu bersamanya setiap waktu. Tapi aku berterimakasih dengan adanya hari ini, dan aku takkan lagi mengeluh tentang nasib buruk dihidupku!
Terimakasih Fandi, telah mewujudkan serpihan keinginanku. Hari ini seperti dongeng.

***

Jumat, 14 Oktober 2011

The Story Of Us - Part 4

"Never let the fear striking out keep you from playing the game."
Thanks for "A Cinderella Story" movie, you give me some inspiration of this part. Hillary Duff and Chad Michael Murray (Sam & Austin) just like Alison and Stephen :)


"Alison, kau cantik malam ini"
"Hmmm"
"Alison?"
"Ya"
"Kau diam saja sedari tadi. Kenapa? Apa aku mengganggumu sebenarnya?"
"Tidak! Aku hanya.. Hanya…"
"Sudahlah, maafkan pertanyaanku tadi. Kau pasti kedinginan kan? Mau kupakaikan jasku?"
"Umm, tak perlu! Aku hanya.. Tak tau apa yang harus ku bicarakan"
"Alison.. Alison.. Kau tak perlu seperti itu, santai saja"
"Hidup tak adil"
"Atas dasar apa kau berbicara seperti itu? Politis sekali kata katamu"
"Haha, entahlah. Kau tau namaku, sedangkan aku tidak. Boleh ku tau namamu?"
"Panggil saja aku Stephen, Alison cantik"
"Hey Stephen, itu kan lagu Taylor Swift"
"Aku tau itu, Swifty"
"Kau juga fans Taylor?"
"Tidak juga"
"Lalu darimana kau tau?"
"Kau tak perlu tau"
"Sudahlah, kemana kita akan pergi? Sedari tadi kita hanya berjalan sepanjang koridor?"
"Kau kelelahan, Alison?"
"Tidak juga"
"Simpan saja tenagamu itu, aku tak ingin kau lelah malam ini"

Namanya Stephen, dan ia masih menggenggam tanganku.

Sabtu, 11 Juni 2011

The Story Of Us - Part 3

Bab ini mungkin terlalu panjang, tapi percayalah, aku telah merangkainya dengan hati hati, seperti merangkai daun daun mistletoe untuk Summer Party :)
Enjoy reading, semoga tidak mengecewakan..


"Psst.. Psst.. Siapa dia? Yang berambut ikal di gerai, yang memakai gaun putih campuran pink-ungu? Sungguh ia cantik sekali!"
"Entahlah, ia terlihat sangat anggun, walau tak ada hiasan di rambutnya, ia tetap terlihat cantik"
"Siapapun yang berdansa dengannya, pasti beruntung!"
"Anak mana dia? Aku baru tahu ada gadis secantik dia di Sydney!"

Bisik bisik itu terdengar di telingaku kala aku berjalan di balkon panjang dekat pualam tangga Aula besar. Warna warni gaun dan hitam kelamnya jas memadati Aula besar di Gedung Sydney Opera. Acara belum dimulai, dan aku masih berdiri mematung menanti siapa saja yang mau mengajakku berbicara. Nanda dan Aulia belum keluar dari ruang periasan. Kaos "FEARLESS"ku telah kuletakkan di loker samping 25 ruangan tersebut. Aku tertawa kecil saat mengingat bagaimana aku kesusahan membuka pintu loker, untung Edmund membantuku dan ia tak se-tengil saat pertama kali aku menjumpainya. Sekilas saat ku lihat dirinya mengenakan jas, aku tak percaya dia adalah Edmund. Edmund terlihat tampan, kemeja putih polos yang ia kenakan, dilapisi jas hitam yang ia rekatkan dengan kancing bundar hitam senada dengan warna jas.

Jumat, 03 Juni 2011

The Story Of Us - Part 2

Teruslah menulis selagi kau bisa. Orang yang tidak menghargai karyamu hanyalah iri semata karena tak bisa membuat karya sebagus punyamu. So, jangan berhenti menulis untuk para penulis. Dan, untuk para pembaca. Mengapa kalian tidak mencoba menulis? :) siapa tau menulis adalah bakatmu yang terpendam. Once more, jangan biarkan orang lain menghancurkan karyamu! Just let your soul flow :)

Hari demi hari berlalu, matahari semakin panas dan petang nanti Summer Party akan berlangsung. Waktu seminggu ini ku habiskan hanya di rumah, dilema mengikuti Summer Party masih merasuki diriku, antara ikut atau tidak. Ikut untuk bersenang senang dan perintah ka Nanda dan Alan, tidak untuk tidak mencari masalah dengan Seven Angels.
Alan benar benar enggan pergi ke Summer Party, aku memang tidak terlalu mengharapkannya, urusanku dengan Putu bisa lebih panjang jika aku pergi dengan Alan.
Pagi ini, aku bangun lebih awal. Bukan karena aku rajin, tetapi karena lagu Better Than Revenge - Taylor Swift dari blackberry-ku terlantun keras. Alan menelefonku. Menanyakan tentang acara yang akan aku lakukan di hari ini dan menyuruhku untuk tetap pergi ke Summer Party sedangkan ia tidak. Aku tak mengerti alasan mengapa ia menyuruhku, tapi yang pasti hal itu hanya menambah kerumitan saja.
Tanganku agak sembuh, setelah pengobatan ekstra dari Mr. Kim, kini bekas goresan kaca di telapak tanganku lenyap, Mr. Kim memang benar benar tipikal perawat yang hebat.

Sabtu, 14 Mei 2011

The Story Of Us - Part 1

Maaf kalau terlalu mengada ngada, dan kalau karakter disini nggak sesuai sama kalian :) . Karya ini di buat sekedar untuk menyalurkan hobi. Di baca aja deh pokoknya..

Persembahan untuk : Spesial untuk Alan, Aulia, Nanda, anak anak HPF :) selebihnya untuk para pembaca :D


Namaku Alison Ramona McCartney, lebih tepatnya di panggil Alison. Aku murid kelas 11 di sekolah bergengsi, Princeton High School, Sydney, Australia. Aku penggemar berat penyanyi musik country, Taylor Swift. Hobiku bermain skateboard, dan aku benci jika di haruskan menggunakan rok oleh mamaku. Aku benci memakai anting, gelang, kalung, dress, high heels atau apalah itu aksesoris perempuan. Aku memang perempuan, tapi aku lebih nyaman menggunakan kaos, celana jeans selutut dan sneakers.

Aku mempunyai seorang sahabat laki laki sejak kecil, mungkin itulah yang membuat penampilanku agak tomboy. Namanya Alan, ia juga satu kelas denganku dan rumah kami berdekatan. Ia anak basket, ia pandai menyanyi dan bermain gitar. Ia tampan, putih, berambut pirang, dan tingginya 10 cm lebih tinggi dariku. Kami sering jalan bersama, bersepeda, atau bercanda di balkon rumah. Teman temanku kerap kali menyebut kami 'berpacaran', padahal faktanya tidak! Kami bersahabat, dan ia banyak di kagumi kaum hawa di sekolahku, tentu saja karena dia hampir sempurna dan ia pun anak basket. Hampir setiap hari, ia menarik tanganku dan mengajakku bersembunyi di manapun dari kejaran anak anak seantero sekolah saat istirahat. Akibatnya aku sering tidak mengisi perutku saat itu. Tapi ia baik, ia sering mengajakku makan di restoran sepulang sekolah, hanya sebagai balas budi tentunya. Tak lebih.
Anehnya, ia belum pernah pacaran. Ia selalu menolak semua gadis yang mengungkapkan cinta kepadanya. Jika ada yang memberinya cokelat atau apapun, ia akan memberikannya padaku. Aku dipihak yang untung.

Kakakku, Nanda Bilius McCartney, seorang anak kuliahan di Bristol-Hillman Music Academy. Ia lebih memilih sekolah di jurusan Musik, papaku sempat melarangnya dan menyuruhnya mengambil jurusan Kedokteran di New South Wales University. Tapi apa daya? Dari kecil ia memang mencintai musik dan tak ada yang bisa menghalangi keinginannya itu. Ia mahir bermain piano dan biola. Tampak jelas perbedaanku dengannya, ia seorang cowo yang 'ups' mungkin sedikit lembut, sedangkan aku, seorang manusia dari kalangan hawa yang akan memberontak jika di suruh menggunakan high heels, dalam darahku, tak ada sama sekali bakat bermain musik seperti Nanda, mungkin aku hanya bisa menyanyi. Itupun asal asalan dan karena aku mengikuti kemauan mama untuk les menyanyi.
"Ubahlah sifatmu itu, Alison. Kau tak wajar, seharusnya kau bermain piano, atau apalah seperti ka Nanda. Tapi kau malah sibuk dengan skateboardmu itu. Kau harus mengubah dirimu sebagai gadis selayaknya"
Itu ucapan mamaku 6 bulan yang lalu. Dan semenjak itu, aku diikutkan les menyanyi di tempat les terkenal. Tapi hasilnya mengecewakan, aku sama sekali tidak bisa menyanyi anggun atau minimalnya merdu seperti teman lesku, Viola. Akhirnya, mama-pun memberhentikan kegiatan lesku ini.

Saat ini pukul 06.30, dan aku masih memeluk bantal kecil bertuliskan "SWIFT" di samping kiriku.
"KRIIIING… KRIIING!!!"
Suara jam beker di sampingku menggelegar keras membangunkanku di udara musim semi ini.
"Aaarrgghh.."
Jam bekerku tak mau berhenti menyanyi dengan suara khasnya. Aku menguap lebar dan duduk diatas kasur bermalas malasan. Aku berjalan menuju MP3 Player di samping meja belajarku dan menekan keras tombol 'play'. Sedetik kemudian, lagu Speak Now - Taylor Swift mengalun keras dan memenuhi ruangan. Aku membuka tirai putih bermotif planet planet kecil dan 'SPLASH' sang surya menyorotkan sinarnya ke arahku.
"Aaah!"
Aku menyipitkan mataku, melanjutkan untuk membuka jendela dan bergegas meninggalkannya.
Kubereskan kasurku yang acak acakan, dan terbawa arus musik yang dilantunkan. Aku merasa semangat pagi ini.

"Don’t say yes, run away now
I’ll meet you when you’re out of the church at the back door
Don’t wait or say a single vow
You need to hear me out
And they said, speak now"

"ALISOOON!!"
Argh! Itu pasti suara Nanda, dan benar saja, karena sesaat kemudian ia membuka pintu kamarku.
"Kecilkan volumenya atau tak segan segan ku banting MP3 Playermu" ucapnya.
"Ini volume paling kecil, lagipula apa pengaruhnya, toh kamu tidak merasa terganggu kan?"
"Aku sedang mengajari Aulia bermain biola, dan ini butuh ketenangan, kebetulan kampus kami libur dan kami ingin bermain musik bersama"
"Ada Aulia? Main biola? Yasudah, sana main dan tutup pintunya!"
"Kecilkan dulu volumenya" ujarnya sambil mendekat ke arah MP3 Player.
"Ini sudah paling kecil, Nanda! Mungkin memang lagunya aja yang terlalu keras suaranya"
"Kalau begitu, ganti lagu slow dan lembut"
"Males, nanggung.. Lalalala, She floats down the aisle like a pageant queen"
"ALISOOON!!" suaranya melengking.

Brak! Ia membanting pintuku dan aku hanya tertawa cekikikan. Aulia Drew Fletcher, ia teman kampus Nanda, sekaligus pacarnya. Aulia memang sosok yang cantik, anggun, cerdas, dan ia pandai bermain gitar. Ia benar benar tipikal perempuan yang benar benar dewasa.

Aku mengganti lagu di MP3 Playerku, Breathe - Taylor Swift. Ah, lagu ini terlalu lembut. Pagi ini aku ingin lagu yang menggugah semangatku untuk berangkat sekolah di Princeton jam 8 nanti.
Drrt..Drrrt..
Blackberry-ku bergetar di samping jam bekerku, aku batal untuk mengganti lagu dan duduk di atas kasur kembali. Ku ambil gadget kesayanganku tersebut, dan menatap layarnya untuk membaca sederet huruf dari si pengirim.

Selamat pagi, Alison jelek!  Peermu sudah kau kerjakan? :)

Alan

OH MY GOD!! Aku lupa mengerjakan PR Biologi. Minggu lalu, Mrs. Heidy memberi kami lembaran soal Biologi untuk di kerjakan dan dikumpulkan pada minggu berikutnya. Tapi memang aku malas, dan inilah akibatnya. Terlintas kembali bayangan sebulan yang lalu, ketika aku di panggil oleh Kepala Sekolah, Mr. Favian, karena aku tidak mengerjakan soal Matematika sebanyak 150 soal. Akibatnya, aku harus mencabut rumput rumput di lapangan sekolah. Telapak tanganku lecet seketika. Aaah! Apa yang harus aku lakukan? Aku tak mungkin mengerjakan 100 soal uraian ini dalam waktu sekejap, lagipula aku pun belum mandi, sarapan, dan menyiapkan buku buku pelajaran. Alison!! Kau terlalu malas!
Otakku sibuk memikirkan cara untuk menyelesaikan PR ini. Ahaa!! ALAN!!
Jempolku sibuk menekan keypad keypad di Blackberryku.

Lan, aku lupa mengerjakan PR Mrs. Heidy, kau tak ingin sahabatmu ini dihukum oleh Mr. Favian kan? Bantu aku, please. Aku salin PRmu, aku janji akan mentraktirmu Kentucky pulang sekolah.

Aku sangat mengharapkan bantuan Alan. Pikiranku kalut akan hukuman yang akan kuterima nanti. Aku menyambar handuk dan beranjak ke kamar mandi.


***

Teng.. Teng.. Teng..
Bel sekolah berbunyi. Pertanda bahwa pelajaran pertama akan dimulai. Untunglah, karena Biologi bukan pelajaran pertama, tapi pelajaran ketiga.
Alan duduk di sampingku dan aku sibuk menyalin uraiannya di lembaranku dengan kilat. Tulisanku tak lebih buruk dari ceker ayam. Tentu karena aku gugup, tapi dalam waktu 10 menit aku berhasil menyalin uraiannya. Alan hanya menggelengkan kepalanya ketika aku mengatur nafasku yang 'ngos ngosan'.
Mrs. Regina, guru Musikku masuk ke kelas untuk mengawali sekolah hari ini. Suasana sepi seketika. Anak anak duduk tegak di kursi mereka.

"Selamat pagi, anak anak" Sapa Mrs. Regina
"Selamat pagi, Mrs." seru anak anak serempak
"Sebelum kita mengawali pelajaran Musik pagi ini, Mrs. akan memberitahu kalian tentang acara Summer Party di liburan musim panas nanti. 1 minggu setelah hari terakhir sekolah nanti, akan di adakan Summer Party di Sydney Opera House. Pukul 19.00 sampai tengah malam. Untuk kalian semua, di harapkan bisa mengikuti acara ini. Tidak wajib membawa pasangan, karena tujuan acara ini hanya untuk bersenang senang. Boleh mengajak saudara, teman atau tetangga. Kami dari pihak sekolah hanya ingin menyampaikan pemberitahuan. Terimakasih"
Mrs. Regina mengakhiri pengumuman aneh tersebut.

Beberapa dari teman kelasku loncat kegirangan, ada juga yang hanya menunduk, dan terdiam. Aku sendiri tanpa ekspresi, kulirik Alan di sampingku, ia tampak tersenyum kecil.
"Ah, anak ini pasti merencanakan sesuatu, aku tau persis seperti apa ia" batinku.

"Ehm, kenapa nih senyam senyum?" kataku mengagetkannya.
"Eh, nggak papa, aku hanya memikirkan dengan siapa aku berdansa nanti.." ucapnya.
"Dansa? Maksudmu?"
"Iya Alison, inti dari acara Summer Party bertahun tahun itu Pesta Dansa, kau ingat kata Mrs. Regina, tidak wajib membawa pasangan. Itu berarti, setidaknya kita saling membawa pasangan"
"Oh" aku hanya ber'oh' ria.
"Jadi, dengan siapa kau pergi ke Summer Party?" tanyanya serius.
"Oh ehm.. Aku sama sekali tak pernah memikirkan itu, kurasa aku akan datang sendirian. Oh tidak, aku akan mengajak Nanda dan Aulia, kurasa aku tak kesepian. Kau sendiri?" jawaku ogah ogahan, ia menunduk.
"Aku tak mengerti, aku tak yakin aku bisa mendapatkan pasangan"
"Hey, pasti lah ada. Kau tampan, anak basket, kurang apa? Lagipula ku lihat, Ginny sedari tadi memandangmu, ia pasti sangat antusias kalau kau mengajaknya"

Ginny teman sekelasku, dan ia memang 'naksir' Alan.

"Oh tidak!! Sudahlah, aku benci anak perempuan disini, terutama Seven Angels. Mereka hanya menginginkanku. Oya, kalau di Pesta Dansa nanti, ada seseorang yang mengajakmu berdansa, apa kau akan menerimanya, Alison?"
"Entahlah, kurasa begitu" jawabku tanpa banyak pikir.

Ia tersenyum kecil seperti 5 menit yang lalu.

***

Bruk! Aku melempar tasku ke atas kasur, Nanda ada di kamarku membaca novel "Sherlock Holmes".

"Alison" sapanya.
"Ada apa?" sahutku sambil melepas sepatu.
"Bagaimana PR Biologimu, kau menyalinnya dari Alan kan?" ia menutup bacaannya
"Darimana kamu tahu?"
"Alan menceritakannya padaku tadi, saat mengantarmu ke depan pintu. Dan ehm, rupanya kalian habis jalan jalan, benarkah?" tebaknya.
"Oh, sial. Tapi ya sukses, aku baru ingat ada PR tadi pagi dan ya kami memang habis jalan jalan, ke Kentucky, mentraktirnya. Kenapa?"
"Kurasa hubungan kalian semakin dekat" ia mulai menggodaku, pasti.
"Oh tidak, sedari dulu kami memang bersahabat. Oya ka, ada Summer Party di Sydney Opera. Kau mau ikut, Nanda? Dengan Aulia"
"Aku sudah tau, Alan memberitahuku. Mungkin saja, kau datang bersama Alan kan?"
"Alan? Entahlah, ia pasti datang dengan teman basketnya"
"Kau cemburu kan? Aaah, adikku mulai jatuh cinta"
"Tidak! Sama sekali tidak! Jadi, acara Summer Party berlangsung 2 minggu lagi?"
"Yap! Dan minggu depan hari terakhir sekolahmu, Alison"
"Aku enggan ke acara itu"

Ia pergi begitu saja dan tidak menutup kembali pintu kamarku. Aku memikirkan Summer Party, sebenarnya aku tidak sama sekali menaruh minat pada acara tersebut. Tapi, hati kecilku membisikku "Apa salahnya ikut, Alison? Kau remaja dan silahkan bersenang senang di malam itu"
Ada benarnya juga, hanya satu malam itu. Siapa tau, aku mendapat banyak teman dan berdansa dengan pangeran tampan seperti di dongeng dongeng.

***
Matahari tenggelam di ufuk barat. Burung burung beterbangan kembali ke sarangnya, langit langit biru berubah menjadi lembayung senja berwarna pink keunguan. Kerlap kerlip lampu lampu kota Sydney menyala mengawali munculnya bulan dan permata permata di kain beludru hitam. Sekawanan jangkrik di keluar dari semak semak dan bernyanyi menambah keindahan suasana malam di rumah Alan. Hening.

Alan sibuk memetik senar senar gitarnya. Mulutnya komat kamit tak karuan mendendangkan irama lagu That's Should Be Me - Justin Bieber. Malam ini, aku menemaninya dirumahnya. Mama dan Papanya pergi ke Queensland untuk beberapa waktu. Dan ia kesepian di rumah. Aku langsung mengiyakan begitu ia mengabariku lewat sms. Nanda dan Aulia sedang bermain biola saat itu dan mereka sepertinya tidak memperdulikan keberadaanku dirumah. Aku langsung menyambar skateboardku begitu Alan memintaku pergi ke rumahnya.

"Kau pernah jatuh cinta, Alison?" Ia meletakkan gitarnya dan bertanya seolah tanpa dosa hingga membuat pipiku, agak memerah.
"Pernah, aku pernah merasakannya, bagaimana denganmu ?"
"Aku tak pernah, padahal aku 16 tahun."
"Benarkah? Pantas saja kau enggan pacaran"
"Untuk itu, aku ingin sekali pergi ke Summer Party, siapa tahu aku bertemu seseorang dan jatuh cinta padanya"
"Kalau begitu, kau pasti ikut" jawabku malas.
"Belum tentu, orang tuaku belum mengabariku kapan mereka pulang dari Queensland. Kau mau pergi ke Summer Party, Alison ?"
"Entahlah, belum ada keputusan, mungkin ya, mungkin tidak"

Aku memandang wajahnya di remang remang. Oh, ia memang tampan. Mata sipit coklatnya, hidung yang agak mancung, rambut pirangnya dan dengan secuil bakatnya, menyanyi, gitar, basket. Pantas saja ia di gandrungi banyak perempuan. Alan memang cinta pertamaku, tapi tidak lagi. Aku sadar bahwa ia di takdirkan untuk menjadi sahabatku.
Pipiku kembali memerah, sebelum ia sadar apa yang terjadi, aku menutupinya dengan jaket. Ia memandangku dan aku hanya terpaku, mata kami bertatapan, hening. Jangkrik jangkrik terus bernyanyi di malam akhir musim semi ini.

***

7 hari berlalu, ini hari terakhir sekolah. Udara panas mulai menyelimuti kota Sydney. Musim semi hampir berakhir dan musim panas akan segera tiba. Itu artinya, sekolah memasuki waktu liburan. Burung burung berkicau terbang mengitari jalanan, air mancur dan gedung gedung tinggi di keramaian Sydney. Matahari bersinar lebih terik dan membuat orang orang enggan keluar rumah, mereka akan memakai topi fedora atau kacamata hitam untuk menghindari terik matahari.
Aku melangkahkan kakiku tergesa gesa menuju Princeton High School, pagi ini aku bangun agak kesiangan. Aku tak sempat meluangkan waktuku untuk melahap roti selai yang dibuatkan mama, Nanda masih melingkarkan tangannya ke guling ketika aku memintanya untuk mengantarkanku berangkat sekolah. Tak terlihat satupun busway di Sydney. Aku terpaksa harus menguras lebih banyak keringat di pagi ini. Untung saja, jarak sekolah dan rumahku tak begitu jauh dan hari ini tidak ada pelajaran. Tentu saja, karena ini hari terakhir sekolah.
Setelah 15 menit berjalan terengah engah, aku tiba di halaman Princeton dan langsung menghampiri Monalisa, teman sekelasku.

"Mona, mona! Kau melihat Alan?"
"Tadi aku melihatnya, ia menanyakan keberadaanmu, ku jawab saja kau belum berangkat."
"Lalu kemana ia?"
"Hahahahaha… Kau pura pura tak mengerti, Alison?" ia tertawa keras, beberapa anak lain menoleh ke arah kami. Aku tersenyum kecut.
"Mona, mona.. Kita jadi pusat perhatian, kenapa sih ketawa? Alan mana?" tanyaku polos.
"Kau tau acara Summer Party kan? Jadi, sedari pagi, dia lari lari tuh, sembunyi dari kejaran cewe cewe yang mau ngajak dia ke Summer Party" jelasnya sambil cekikikan.
"Astaga Mona!! HAHAHAHAHAHA" aku tertawa lebih keras dari Monalisa.
"Alison! Alison! Astagaaa.. Lihat! Ezra melihatmu daritadi, hati hati.. Kau bisa dikira orang gila!"
"Maaf, maaf.. Hahaha, jadi Alan di kejar kejar cewe? Aku tak bisa membayangkan ekspresinya"
"Sudahlah Alison. Oya, jadi kau pergi dengan siapa ke Summer Party?"
"Umm, ehm.. Aku tak tahu, aku tak begitu tertarik. Bagaimana denganmu, Princess Mona?"
"Sudahlaaah, entahlah, tapi aku sedang menanti seseorang"
"Ahaaay, Mona ehm.. Cie cie, siapa Mona, boleh aku tau?"
"Alison, sudahlah, kau menggodaku dari tadi. Dia itu umm, Hendri.. Ya, Hendri Longbottom"
"Kau menyukainya Mona? Oh astagaa.. Ayo kau ajak dia ke Summer Party, lagipula apa salahnya kau mengajaknya. Kau bisa menemuinya di perpustakaan, setauku dia paling sering nongkrong disitu, dan hey! Kau bisa menanyakan terlebih dahulu seperti ini, Hey Hendri, kalau boleh tau, kau pergi ke Summer Party dengan siapa? Dan kurasa belum ada yang mengajaknya, ayo Mona ku antar kau sekarang ke perpustakaan" aku berbicara tanpa berhenti dan langsung menyeret tangan Monalisa.
"Alison! Alison!!" ia melepaskan genggamanku.
"Ada apa?"
"Tak semudah itu" ia menunduk.
"Kenapa?"
"A-a-a-aaa-aku malu, lagipula sepertinya Hendri mau pergi dengan Henrika, ya Henrika Smith"
"Henrika? Mantan Hendri itu?! Bukankah mereka putus?"
"Iya, tapi Hendri masih mencintainya. Henrika yang memutuskan hubungan itu, aku tak mungkin mengajak Hendri."
"Oke, aku mengerti, maafkan aku. Jadi, kau tak ikut ke Summer Party, Mona?"
"Aku tetap ikut! Walau mungkin tak ada pasangan, inti dari acara itu kan have fun!!"
"Jadi kau tak sedih?"
"Tidak Alison! Aku tidak terlalu mengharapkan Hendri"
"Naah gitu dong, Monalisa."
"Baiklah, kalau kau tidak keberatan. Permisi, aku ditunggu Revita dan Yohana di lobby, selamat pagi Alison"
"Hati hati, Monalisa. Senang berbicara denganmu"

Ia berjalan ke lobby sekolah, sosoknya lenyap dari pandanganku. Ku letakkan buku yang ku bawa sedari tadi di pangkuanku, aku duduk di kursi panjang dekat patung logo sekolah. Aku menyapu pandangan ke seluruh halaman, semuanya menyibukkan diri dengan mengobrol, mendengarkan musik, membaca buku, dll.
Aku hanya duduk menunggu Alan, biasanya ia akan datang sendiri dan mengajakku berbicara.
10 menit aku duduk, tak ada tanda tanda kehadiran Alan di halaman. Aku bosan dan ku nyalakan ipod hijauku. Fifteen - Taylor Swift. Rasa bosanku sedikit lenyap.

Aku mengharapkan Alan yang menghampiriku, ternyata bukan! Bukan Alan, tapi "Seven Angels"! Sekelompok geng terkenal di Princeton, 7 gadis ini terkenal akan kecantikan, kemodisan, dan 'ups' jumlah uang di kantong mereka, sayang sifat mereka tak sesuai dengan rupanya. Mereka.. Aih!! Tidak bisa di ungkapkan dalam kata kata tentang kegenitannya. Banyak kaum pria di Princeton yang mengincar mereka dan mau melakukan apa saja demi mendapatkan mereka, apa saja! Kecuali Alan, ia tak pernah menyukai Seven Angels. Justru ia ILFIL!
Ketua geng mereka, Putu, tentu saja mungkin yang paling cantik dan paling modis, ia paling terobsesi mengincar Alan! 6 anggota lain sama modisnya, mereka sama menyebalkan. Monica, ternyata ia-lah penyebab rusaknya hubungan Hendri dan Henrika. Stefani, ia juga terobsesi dengan Alan, tapi ia harus mengalah dengan Putu. Wardah, dia anak yang keranjingan 'shopping', pernah ketika pelajaran Fisika, ia sama sekali tidak mencatat materi. Ia malah menghitung uang untuk shopping nanti di bawah laci, entahlah mungkin shopping sudah menjadi makanan sehari harinya. Rhia, ku akui ia memang cantik, paling cantik! Bahkan lebih cantik dari Putu, sayang ia tak pernah naik kelas 2 kali. Nadya, ia modelling terkenal di Sydney, pantas saja Putu langsung merekrutnya menjadi salah satu bagian Seven Angels. Terakhir, Dikca, Ia anak ter-FREAK dengan make up, ia selalu ingin tampil dengan wajah penuh 'ehm' lipstik, softlens, dan apa lah itu macam macam make up.

Aku menyambut kedatangan mereka dengan enggan, ku matikan ipodku dan mulai menyiapkan mental untuk menghadapi mereka.

"ALISON!!" jerit Putu. Semua anak menoleh ke arah kami, termasuk Syifa dan Ery yang sama sama memakai headphone. Aku berdiri dan mereka bertujuh berdiri memutariku.
"God, apa yang akan mereka lakukan? Alan! Alan!! Kamu dimana? Aku butuh bantuanmu" batinku dalam hati.

"Mau apa kalian?" tanyaku tanpa takut.
"Masih nanya lu? Songong!! Nadya ambil ipodnya!" jerit Putu, suaranya menggelegar.
Dalam waktu beberapa detik, kami menjadi pusat perhatian banyak orang.
Nadya merebut Ipod dari tanganku, diberikannya kepada Putu, dan ia membantingnya.
Layar Ipodku pecah.
"Putu! Inikah yang kamu mau?" PLAK!! Ku tampar pipinya keras, Rhia langsung mendorongku hingga aku terjatuh.
"AAAWW!!" telapak tanganku tergores pecahan kaca Ipod, sebagian telapak tanganku berdarah. Tapi aku tak menangis, Wardah, Dikca, dan Monica tertawa keras.
"Harusnya kau lebih tau diri, cewe macam kamu, ga pantes deket deket sama Alan!" seru Stefani, ia menjambak rambutku dan memaksaku berdiri.
"AAAWW!!" aku mengerang kesakitan.
"Stefani, cukup! Ia tak bersalah! Kau kurang ajar!" kata Syifa seraya menghampiri aku dan Stefani, Stefani mendorongnya hingga jatuh.
"Syifa.. Syifa.. Kau tak apa?" Ery membantu Syifa berdiri.
"Aku tak apa"
Disaat seperti ini, aku hanya bisa terdiam, menerima semua cacian mereka tentangku. Aku tak pernah mencari masalah dengan mereka, mereka-lah yang mencari masalah denganku, ini pasti karena Putu!! Ia tak ingin aku dekat dengan Alan.
"Alison! Perlu kau ingat, jika kau pergi ke Summer Party dengan Alan, nyawamu takkan bertahan di acara itu!" seru Wardah.
"Kau seharusnya sadar bahwa Alan tak mau dengan gadis tak cantik sepertimu, pergilah dengan tukang kebun Princeton, kau pantas dengannya!" Monica tak mau kalah.
"HAHAHAHAHA, ingat! Kau tak pantas dengan Alan, hanya Putu seorang-lah yang pantas dengannya" kata Rhia.
"Bisakah kalian berhenti mencaciku? Sudah cukup! Aku tak pergi dengan Alan, puas?" aku mulai mengeluarkan air mata.
"Kau memang pembohong Alison! Kau pergi dengan Alan kan? Kau dekat dengannya dan kau pasti merayunya lebih awal, dasar manusia menjijikkan!" Dikca ikut menimpali.
Putu mendekatiku, aku tak bisa berbuat apa apa, tanganku terlalu sakit di gerakkan, rambutku masih di genggaman Stefani, dan darahku masih mengucur.
"ALISON RAMONA MCCARTNEY! Seharusnya kau tahu diri! Alan hanya akan mau pergi dengan cewe sepertiku, kamu tak se-level dengannya, lihat mukamu! Kau tak lebih dari seekor monyet! Dan asal kau tahu, sebenarnya kau tak pantas pergi ke Summer Party! Mulai sekarang! Kau tak boleh dekat lagi dengan Alan! Alan akan segera menjadi milikku!" cemoohnya.
"Kami hanya bersahabat! Dan kukatakan sekali lagi kalau aku tidak pergi dengan Alan, kau boleh mengajaknya, kau boleh mengataiku kasar, kau boleh memacarinya, aku tak peduli itu! Tapi jangan perlakukan aku seperti hewan, aku manusia put!!!"
"Pinter banget lo, nyeramahin gue! Inget aja…."
"PUTU !!!!!!!!!!"

Alan datang dari kejauhan, ia tampak murka. Stefani melepaskan rambutku dan mendorongku ke tanah. Aku hanya terdiam dan mengusap air mata dengan tangan kiriku.

"PUTU!! BERHENTI GANGGU ALISON! KELAKUANMU INI MEMALUKAN! INGAT SAJA!! AKU TAKKAN PERGI KE SUMMER PARTY!! TAK AKAN!! SEKARANG PERGI!!"
"Tapi, Alanku sayang.."
"PERGI!!!"

Wardah, Dikca, Rhia, Nadya, Stefani, Monica, mereka berdiri mematung.
"Ingat Alison! Tunggu pembalasanku!" ancam Putu sebelum ia pergi.

"Kalian ngapain liat liat?! Pertunjukkan selesai! Bubar!" seru Alan.
Semua anak pergi meninggalkan kami, kecuali Ery dan Syifa. Mereka mendekatiku dan mengangkat tanganku.
"Sepertinya sakit Alison, sabarlah" kata Ery.
"Sebaiknya kau bawa Alison ke Mr. Kim, ia akan mengobatinya" saran Syifa pada Alan.
"Terimakasih Syifa Ery, biar aku yang urus Alison" kata Alan.

Syifa dan Ery meninggalkan kami berdua. Alan memapahku duduk di kursi yang ku singgahi 15 menit yang lalu.
Air mataku berhenti, tapi darahku tidak.
"Alison, kau tak apa? Aku cemas, maafkan aku, aku mencarimu, dan ternyata.."
"Aku tak apa"
"Kau bohong, biar ku bawa kau ke Mr. Kim"
"Sungguh aku tak apa, oh.. Ipodku.." Alan mengambil Ipodku yang tak utuh lagi.
"Sayang sekali, mereka yang merusaknya, sepertinya tidak bisa di betulkan, Alison" ia membolak balik Ipodku. Ku rebut dari tangannya dan ku masukkan dalam tas.
"Kau benar tak ingin pergi ke Summer Party, lan?"
"Tidak! Setelah apa yang Putu lakukan padamu, aku enggan pergi ke acara itu."
"Maafkan aku lan, ini semua salahku, karena aku terlalu dekat denganmu, Putu mengira.."
"Tidak, sama sekali tidak Alison!! Kau memang sahabatku, dan wajar saja kalau kau paling dekat denganku, tak usah hiraukan kata kata Putu"
"Terimakasih"
"Alison, kali ini kau tak boleh mengelak, kau harus ikuti aku ke Mr. Kim, ku lihat darahmu tak mau berhenti"

Akhirnya, ia membawaku ke Mr. Kim, perawat di ruang kesehatan Princeton.

***



***

To be continued...

Minta komennya yaa :)
Kritik lebih bagus ! I don't hate comments :)

Senin, 28 Maret 2011

Bab 3 - Awal Sebuah Cerita ^FF^

Untuk anak anak RCRI dan Prefek Edmund Lestrange, atas kerja keras, semangat, kebijaksanaan, toleransi dan kegigihan sebagai prefek :)


Pukul 06.30 a.m

"Kamu bener naruhnya disitu ?"
"Kok bisa ilang fa?"
"Eh, fa.. Aku bener bener ga tau"
"Tenda ini udah kukasih mantra pelindung fa, ga mungkin ada yang bisa masuk tadi malam"

Ya, pagi ini anak anak heboh karenaku. Anak anak Gryffindor, Ravenclaw bahkan Slytherin mengerubungiku yang duduk lesu di atas kasur tenda Ravenclaw. Bagaimana tidak ? Bola kristal milikku hilang begitu saja.

"Aku taruh bola itu di dalam koper samping buku pelajaran. Sungguh .. Dan kalaupun tenda ini udah di kasih mantra, berarti bukan anak Gryffindor, Hufflepuff maupun Slytherin yang ngambil bola itu, tapi ga mungkin juga anak Ravenclaw yang nyuri. Mereka tidak akan setega itu" jawabku pasrah.
"Yasudahlah, kau ikhlaskan saja.. Saya janji akan bantu kamu untuk melacak pencurinya, sebaiknya kau berkemas kemas dulu, 1 1/2 jam lagi kita berangkat. Dan semuanya, BUBAR ! Kembali ke tenda asrama masing masing. Ravenclaw ! Kemasi barang barang kalian, setelah ini. Kita pergi ke samping danau untuk mempersiapkan sapu terbang kita. Paham ?" jelas ka edmund panjang lebar.
"Paham kakak prefek !"

Kini, semua anak pergi, sibuk dengan kegiatan masing masing. Aku kembali menata baju bajuku di dalam koper. Tragis, sungguh tragis ! Tak mungkin anak Ravenclaw berani mencuri benda teman mereka. Mereka tak bersalah, dan lagipula, apasih yang diincar dari sebuah bola kristal ?

"Aufa !" jerit prefek edmund.
"Apaan?"
"Kamu itu ! Duduk mulu, udahlah, lupakan bola kristal itu."
"Yaudah, biasa aja dong. Gausah pake teriak teriak segala, cerewet amat !"
"Eh, eh.. Kurang asem ni orang. Udah, ambil alih tugasku. Kamu sama anak Ravenclaw pergi ke samping danau, tolong siapkan sapu terbang. Aku dipanggil Ketua Murid sebentar, bye !"

Ka edmund pergi keluar meninggalkan tenda. Kini, saatnya aku yang memimpin
"Sonorus"
"Ravenclaw ! Kalian udah pada nata koper kan ?"
"Udah kakak prefek !"
"Bagus, kita ke pinggir danau sekarang ! Ikuti aku !"

Aku memimpin mereka ke luar tenda. Pandanganku ke sekeliling arah mencari tempat yang pas untuk menyiapkan sapu terbang.

"Nah itu dia ! Di bawah pohon cemara yang itu" tanganku mengarah ke arah kiri danau .
"Ikuti aku"

Aku dan anak Ravenclaw tiba di bawah pohon cemara di samping danau yang  jaraknya kurang lebih 8 meter dari 4 tenda kecil tersebut. Dari seberang danau aku melihat anak anak Hufflepuff sibuk dengan kegiatannya, tapi aku tidak melihat mereka menyiapkan sapu terbang, lalu apa yang mereka lakukan?
Padahal semua asrama sibuk menyiapkan sapu terbang, aneh? Aku terus memandang mereka, hingga seseorang menyentuh pundakku, Ulya.

"Kak Aufa!"
Aku terkejut.
"Iyaa" aku mengalihkan pandanganku ke ulya, tetapi mataku tak bisa lepas dari sekelompok jubah kuning tersebut.
"Kak, ayo kak.. Nanti keburu ka Edmund datang kesini" kali ini Yosafat berbicara.
"Bentar itu.."

"AUFA!!" jerit ka Edmund murka dari kejauhan, ia berjalan ke arah kami.
"Iyaaa.. Apaan sih ?" aku terkejut, kali ini aku tak berani menatap orang yang meneriakkan namaku.

Ka Edmund terus berlari menuju kami, ia murka. Dan ia berhenti tepat di depanku. Aku tak berani menatap mukanya, yang ku lihat hanyalah sepatu hitamnya menginjak rerumputan. Aku sedikit mengangkat kepalaku, tapi dengan segera ku tundukkan lagi kepalaku, semua anak Ravenclaw hanya diam mematung. Karena ia berkacak pinggang.

"Ngapain diem? .. Cepet panggil sapu kalian kecuali Aufa"
"Accio firebolt!"
"Accio Nimbus 2000!"
"Accio comet!"

Ku dengar mereka sibuk memanggil sapu terbang mereka.
Aku masih tertunduk, hingga …

"Eh, kok nunduk? Kenapa?" tanya ka Edmund.
Aku masih menutup rapat mulutku.
"Aku ga marah tau, tadi cuma bergurau, hahaha .. Kasian deh kamu, Edmund hebat, bisa buat seorang aufa nunduk, haha"
Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya. Dia tertawa kecil
"Kamu !! Sama sekali ga lucu dan diam! Accio Nimbus 2001!"
"Yaa, maaf deh.. Hehe, oya.. Mau tau ga tadi aku dibilangin apa sama Adel, ketua murid?"
"Apaan?" jawabku tidak peduli sambil memandang langit menunggu sapuku.
"Accio Comet!! Tadi Adel bilang katanya perginya ga serempak"
"Maksudmu?"
"Iya, kita ke Hogwarts ga bareng, maksudnya di hitung waktunya. Setiap satu menit, 2 anak berangkat dulu, menit berikutnya 2 anak, seterusnya"
"Lho? Kalau anak yang gatau arahnya?"
"Sebelum mereka di berangkatkan, sapu mereka di beri mantra lebih dulu sama Adel, jadi ga bakal ada yang nyasar. Entah kenapa harus seperti itu, dan sialnya aku harus sama kamu"
"Apa? Nggak bisa, aku mau sama Monica!"
"Ih, malah bikin peraturan sendiri! Eh, prefek itu berangkatnya terakhiran tau, prefek itu harus bareng! Adel bilang sendiri tadi, aku juga ogah kali sama kamu, week!" ia menjulurkan lidahnya.
"Argh! Ga seru!"

Pandanganku kembali mengarah anak Hufflepuff, rupanya mereka belum beranjak dari seberang danau.
"Ka Edmund"
"Kenapa?"
"Itu mereka ngapain sih? Mereka lagi nggak nyiapin sapu terbang kan?"
"Jangan tanya aku, tanyalah pada rumput bergoyang"
"Aku tanya serius!"
"Haha, entah fa, mereka nggak mungkin lagi nyiapin sapu, setauku tadi sapu mereka udah ada di depan tenda, gerak gerik mereka aneh"
"Siapa prefeknya?"
"Iyan"
"Apa!?!?! Iyan? Dia prefek Hufflepuff??! Bukannya ka Rhia yang jadi prefek?"
"Rhia mengundurkan diri, jadi cuma Iyan prefek disana"
"Aneh"

1 detik kemudian..

"AWWW!!" aku terlempar 1 meter, begitupula ka Edmund, ia terlempar kurang lebih 2 meter dari arahku. Kepalaku pening, rupanya si sapu terbang telah mendarat, tetapi kami tidak menyadarinya, sapu terbang kami berhasil menimpuk kepala kami. Aku bangkit mengambil sapu terbangku, semua anak Ravenclaw menertawakan kami berdua, aku kesal dan menyuruhnya diam dan menjelaskan sistem pemberangkatan Hogwarts. Ka edmund pergi.

Anak anak Hufflepuff masih mencurigakan ketika ka Adel mengambil alih barisan Ravenclaw untuk memantrai sapu terbang. Aku sibuk memandang mereka sambil memegang sapuku. Ka edmund sibuk menata koper Ravenclaw depan tenda. Ku lihat anak anak Gryffindor pun sibuk memeriksa sapu mereka bersama ka Satria, anak anak Slytherin masih di dalam tenda, sapu mereka terpampang di depan tenda hijau kecil.

Setengah jam lagi, pemberangkatan dimulai
Setengah jam lagi, tidak ada yang bisa mengira
Setengah jam lagi, adalah awal sebuah cerita :)

***

Kini semuanya siap, jam tanganku tepat di jarum 8 dan 12. ini pukul 08.00
Satu persatu anak Gryffindor berangkat, Aulia dan Tarra, Stefani dan Ka Ran, ka Fifi dan ka Helen. Prefek mereka, ka Adel dan ka Satria yang juga ketua murid, sibuk mengatur pemberangkatan asrama mereka.
Anak Slytherin menyusul anak Gryffindor di atas awan, Putu dan Ezra, berbaris di sampingku dan ka Edmund.
Akhirnya asramaku memulai pemberangkatan, Ayuana dan Yosafat melejit menuju awan dan hilang di antara sekumpulan kapas putih dibawah kain biru langit :)
Almira dan ka Ivan menyusul, Monica dan Echi, Yohana dan ka Ikha, Hendri dan Ulya, etc…
Anak Hufflepuff tak mau kalah, tapi raut muka mereka aneh, mereka duduk di atas sapu seolah olah menyimpan suatu drama.

Semua anak telah di berangkatkan, kini tinggal ada ka Adel dan ka Satria, prefek Gryffindor, aku dan ka Edmund, prefek Ravenclaw, Putu dan Ezra, prefek Slytherin, dan Iyan sendirian, prefek Hufflepuff.

Ka Adel memerintahkan kita semua, untuk menghilangkan tenda asrama masing-masing.
Agar identitas penyihir tidak di ketahui oleh kaum Muggle.

"Gunakan mantra Reducto dan mantra Evanesco!" seru ka Satria

Semua prefek menghadap tenda masing masing.
Tatapanku menuju tenda kecil berwaran biru tua. Tanganku memegang tongkatku dengan erat.

"REDUCTO!!" tenda biru itu hancur menjadi serpihan kain yang tak lagi utuh.
Ka Edmund menghilangkan serpihan itu "EVANESCO!!"

Semua prefek melakukan hal yang sama.
Kini aku siap di atas sapuku. Putu dan Ezra hilang di atas awan, Iyan menyusul, kini giliran aku dan ka Edmund.
Aku menghentakkan kakiku dan .. WHUSSS !!
Aku kembali terbang untuk pulang kembali ke sekolah Hogwarts.
Angin kencang menerpa rambutku dan membuatnya berantakan, deru angin terdengar di telingaku.
Aku berada di samping kiri ka Edmund, 10 meter di belakangku ka Satria dan ka Adel tampak tertawa bercanda di atas sapu terbang mereka.

"Sial amat sih aku, harus sama orang se-garing ini, orang ginian mana bisa di ajak bercanda? Ga seru banget! Andaikan aku sama Monica pasti udah kemasukan angin gara gara ketawa mulu, nah yang satu ini?? Serius amat terbangnya, bercanda napa? Gatau apa kalo diem mulu bikin mules, takut nih lama lama kalo terbang!! Ka Edmund ga seru, nyebelin!!!!" batinku.

"Ngapain loe heh?? Ngomongin gue?"
Sial, rupanya dia membaca pikiranku.
"Alaah, gue loe gue loe! Sapa loe sapa gue? Garing!"
"Udah loe, diem! Loe pengin bercanda sama gue kan? Haha, gue gitu. Bikin greget :P"
Aku menatapnya tajam
"Gausah gue loe-an, sama kamu kagak seru tau nggak!"
Aku menambah kecepatanku dan meninggalkan dia yang masih cekikikan.
"Eh, aufa!! Tungguin dong! Kamu cemberut mulu daritadi, kalo mau ngobrol yaudah sana ngobrol tapi jangan tinggalin aku dong, kalo aku jatuh dari sapu sapa lagi yang mau nolongin?" ia mengejarku
"Kamu garing sih! Kalo mau jatuh yaa silahkan, aku nggak ngelarang kok, dan aku juga nggak mau nolongin! Makanya jangan jayus nih!"
"Yaudah sorry, makanya kamu jadi cewe jangan cemberut-an, aku males ngomong, kalo kamu mau ngobrol sama aku, yaudah sana cari topik aku pasti nimbrung, dan kalo….."
"AAAAAAA" aku menjerit dan menabrak ka Edmund di sebelah kananku.
Rupanya ka Adel dan ka Satria terbang melejit meninggalkan kami berdua. Ka Satria menabrakku keras. Aku sempat melihat mimik ka Adel yang begitu panik. Aku ketakutan.

"Mereka kenapa?" tanyaku
"Pasti ada sesuatu didepan"
"Perasaanku nggak enak, dari awal kelakuan Hufflepuff selalu mencurigakan, apa yang tengah mereka mainkan?"
"Aku juga, coba ingat.. Bola kristalmu hilang dan saat itu sikap anak Hufflepuff seolah tidak peduli dengan kejadian itu. Lalu, kelakuan Hufflepuff di sebrang danau. Pemunduran prefek Rhia, dan.."
"IYAN!!!" seruku berbarengan dengan ka Edmund
Aku dan ka Edmund terbang menyusul ka Adel dan ka Satria, kecepatan kita tak terkendali. Ia mengajakku berbicara.

"Pasti ini semua drama Iyan, aku yakin, anak itu sedang berakting. Apa perlu kita laporkan ke Adel? Tapi, dia takkan mempercayai kita"
"Jangan !!Kita tunggu saja nantinya. Yang penting, kita awasi gerak geriknya dan.. AAAAA!!"aku menjerit kembali, lengan kiriku berdarah oleh gigitan.
"Aufa, AWAS, WINGARDIUM LEVIOSA!!"
Aku mendekat ke arah ka Edmund, ia menerbangkan Dugbog yang mengigit lenganku.
Dugbog itu terhempas jatuh menuju tanah bermil mil di bawah langit.

"Sial, siapa yang memantrai Dugbog !!!??" ka Edmund marah
"Sudah kuduga, pasti ulah Iyan !!Ini pasti ada hubungannya dengan tingkah mereka di sebrang danau, mereka pasti sedang mencari Dugbog dan memantrainya"
"Bloody brillant!! Analisa yang hebat!"
"Pasti masih banyak Dugbog lain, jadi apa yang harus kita lakukan?"
"Kita musnahkan semua Dugbog sebelum mereka mencelakai anak lainnya"

Aku mengambil tongkat sihirku, dan bersiap siap jika ada Dugbog Dugbog lainnya.
Darahku terus keluar, ka Edmund rupanya memperhatikan tanganku.
"Brackium Emendo!! Kau tak butuh Madam Pomfrey lagi :)"
"Makasih kak :) . Dugbog lagi !! ORBIS !!"
Dugbog-dugbog lainnya berdatangan. Terkaan kami benar,
"WINGARDIUM LEVIOSA!!"
"ORBIS!!"
"FLIPENDO!!"
"ORBIS!!!"

"Dugbog-nya terus berdatangan!! ORBIS!!" seru ka Edmund.
"Kita hilangkan diri kita dan jebak Dugbog-nya!"
"Brilliant!"
"PROTEGO !!!!" tongkat sihirku mengarah ke depan, mungkin kita berdua tertinggal jauh oleh anak anak lainnya.

Tongkat sihir ka Edmund mengarah ke diriku, Dugbog lainnya terus berdatangan dari arah berbeda dengan ganas.

"Arahkan tongkatmu ke aku, segera!!"
"OK!! 1,2,3"
"BEDAZZLING HEX!!"

Aku dan ka Edmund menjadi tak terlihat, kini Dugbog Dugbog itu tidak bisa melihat kita, aku masih bisa melihat ka Edmund begitupula ia. Tampaknya, Dugbog itu kebingungan. Mereka terbang menjauh dan turun dari awan.

"Sebaiknya kita terus menggunakan mantra ini, sial rupanya Iyan itu!!"
"Sudahlah, kita pasti tertinggal berkilometer dari anak lainnya"
"Kita kejar mereka!!"

Kami, dua jubah biru dengan lencana Prefek, kembali melanjutkan perjalanan, rambutku kembali berantakan, kami tak mengucapkan apa apa sampai tiba di Hogwarts, pikiran kami kalut dan melayang layang entah kemana, yang pasti kami berusaha melupakan Dugbog tersebut.
Kecepatan kami tak terkira, kami berhasil menemukan ka Adel dan ka Satria, mereka berdua jauh meninggalkan kami, tapi kami masih tidak terlihat. Jadi, kami terus melayang bermil mil di atas tanah, terus melayang hingga Hogwarts ada di pandangan kami.

Drama akan segera di peragakan, dimana sebuah rahasia yang tak terduga akan terpecahkan seiring petualangan petualangan tak terbayangkan.
Aku, seorang prefek Ravenclaw bersama ka Edmund akan menjadi sahabat yang menguak drama tersebut.

Kami memang bukan siapa-siapa, tapi kami tahu segalanya.

PLAY WILL PLAY !!
(Drama akan dimainkan!!)

To be continued..