Sabtu, 30 Oktober 2021

Adios!

Hi! Been a long time since craving into this blog 

How are you guys doing?

Anyway, due to some technical issues (yang mana gue sudah nggak bisa login ke blog ini), I am truly sorry to inform youuu readers that this blog will be inactive and probably I will close it right away in the future *waves good bye

But don't worry! It's not a real epilogue!

We are moving to...... new blog!

Let's diggin to https://www.aufasya.com and find me rants there!

Some of old posts here will be moved into the new house, so no need to worry..

Bye bye!

Minggu, 05 Mei 2019

Feeling Twenty Two




Dedicate to twenty two area, whether going to be, am now, or was.
Here's I serve you my even number feeling experiences
In celebrating someone who turns out 'his/her' twenty two next step life
Happy twenty two for you

Minggu, 24 Februari 2019

The Untold Confession

source; pinterest



I once had a lovestory of highschool era, it happened at my last year.
When I was rushing to study all the time
When all I could think about was college
When all I faced day by night was books, not movies
That's when I have been loving you and claiming you are my huge motivation

It is going to be cheesy, super cheesy
I rarely write something about this
But I guess, in a blue moon, you will be need to read this 


Jumat, 22 Februari 2019

Whore? Is it worth?


source; pinterest 

WARNING; i wrote this not to state 'makanya omongan orang di filter, gausa semua dimasukkin'. It is one of my toxic thought that someday in order a person need to read something to calm his/her worst experience of line, you aren't alone. Bad people adore badmouthing yeah.
Kadang gue bertanya, dari segala macam kosakata dari kamus dunia kebun binatang, patutkah satu kata berlabel 'whore' yang ia lemparkan ke gue, hanya karena dia ga kenal gue?
Gue pernah memasuki fase dimana gue ga kenal siapa-siapa, gue harus push myself hard to introduce dan berkenalan dengan orang lain to get survive. And I'm pretty sure it all happened to you at least once or twice, lo masuk SD hingga kampus, terus lo masuk kerja, even kalo lo nikah, lo akan berbasa-basi dengan orang lain untuk kenalan, untuk menceritakan who you are and what is your most-talked-stories. Gapapa, normal banget and it should be. 
Udah berapa tahun lo hidup? Udah berapa ratus respon yang lo dapet ketika lawan bicara lo tau namamu, mendengarkan ceritamu, kemudian dengan waktu berlari, do they decide to get to know you better, or just sayin 'she is a good friend, gue kenal kok dia', or ignore and pretend that you don't even exist. Karena? Beda gaya hidup, beda selera, beda pendapat, beda prinsip hidup dan beda-beda lainnya. Alasan itu, adalah kewajaran yang seharusnya bisa di toleransi so that the last line of my statement above never can happen. Tapi kadang orang buta, akan muncul ucapan -lo jauh aja dari gue, gue tau aja nama lo, but don't you dare to create a conversation or a shitty chit chat, selain tugas kantor atau tugas kampus-. Gumam dalam hati, jelas. Gak mungkin diomongin kalau lo ga pengen nyulut api. Wow. 
Kenapa gue nulis judul sekasar itu? Because worst line I got, is whore. Bagian terjeleknya adalah, gue dikatain lacur dari mulut seseorang yang hanya tau nama gue siapa, asal gue darimana, tau gue sebulan, apa aja yang gue suka dan bisa kerjain dan dia gak bisa, she spilled that bitch word out. Apesnya lagi, didepan gue langsung di tempat publik. Wow. Lagi-lagi gue terkesima, betapa mudah dan menyenangkannya orang bisa menyindir kata-kata yang seharusnya dia pikir-pikir lagi, is she worth it to get that? What jerks else that I know? Dude, lo gatau gue dude. Gue, cuma suka banget nulis, crafting, blogging, video editing dan lo se enteng itu ngatain gue karena lo gabisa ngelakuin hal yang sama. Dude, you have your own talent, don't vomit your in-capability to others that can. Lo, ga kenal siapa gue, apa yang telah gue lalui, dan gue pun gapernah repot-repot deketin lo, jelekin lo depan orang lain, but why did you do that? Lagu Taylor Swift - Mean memang benar adanya.
Awalnya gue kesel banget dibilang gitu, but she just blocked the concrete wall there and didn't let me make it clear. Intinya, bodo amat gue sudah mengatakan pendapat gue tentang ketidaksukaan gue ke elo, jadi lo harus tau, bahwa lo emang se-whore yang gue katakan.

Years by, I know the way she talked that rude IS not only because I did the things she couldn't. Because the main point me being her whore version, IS, I was surrounded by people she wanted to be closed with. CK. And she did that to every girl she met that she doesn't fit in.

QUESTION IS,
Is it worth to say whore?
Do you enjoy badmouthing?
Does badmouthing make you feel better than any other person? IYA?
You know what is whore translated into?
You know by talking someone whore, to a people you just met,
Isn't it a verbal sexual harrashment?
Whore?
What's the jerk parameter that people could be labelled as whore?
Getting surrounded by guy friends, really?

By now, those guys circle you wish get attached into, became your closest friends? Are you even happy? If I do the same thing, who's the whore now?
Seems ironic, doesn't it? But it happens anyway

Jadi, readers,
What is the worst line you've ever get?

Senin, 26 Maret 2018

Lagi Rajin Ngerawat Kulit

Hello readers! 
Menapaki usia 21 yang udah gak lagi dibilang remaja, sadarlah gue sama daily look gue selama ini yang terkesan sebodo amat (dalam kasus ini; wajah). Dulu, dari jaman SMP sampe kuliah tahun ketiga pun, gue gak seberapa peduli muka gue kucelnya kayak gimana kalo udah aktivitas seharian. Gue mikirnya, yaelah ini wajar lagian abis capek seharian siapa yang peduli. Emang bener, ga akan ada yang peduli gimana bentukan lo. Tapi men, lebih enak mana sih lo liat muka orang yang bersih dan seger dibanding liat muka orang kusam berminyak dah gitu raut mukanya susah senyum lagi? Banyak orang pasti milih opsi pertama, "wah dia masih fresh aja ya sampe sore, padahal seharian dia blablabla". Yap, that point! 
Itu adalah faktor kedua kenapa di tahun 2018 ini gue hampir tiap hari nge-skincare routine- muka gue. Faktor utama adalah entah kenapa hal ini asik dan menyenangkan aja. When you take care of your skin, you invest your future a healthy skin. Buat gue, skin care itu semacam aset, yang hasilnya mungkin ga akan kerasa sekarang tapi di beberapa tahun kemudian. Kulit lo yang biasanya kusam, berminyak, at least bisa berkurang jadi minimal fresh, syukur bisa bersih kinclong, dan mengurangi permasalahan di usia 30 an nanti yang ga sedikit akan masalah per-wajah-an (kalo gak dirawat). And this is what I do!

Senin, 12 Maret 2018

Me Time Totalitas

Hai again readers 

Sebenernya tulisan ini dibuat karena latar belakang gue sebagai mahasiswa perantau di luar kota, yang gue yakin ga ada orang perantau satupun yang gapernah menghemat/irit-irit pengeluaran supaya budget bisa pas untuk satu bulan. So did I. Tapi gue ga akan bahas gimana caranya bisa ngehemat atau apa aja yang gue lakuin biar uang bulanan ngepas (gue bahas di akhir aja), main idea tulisan ini adalah gimana lo bisa satu hari aja seneng-seneng dan tanpa ngerasa bersalah keluarin duit banyak because you just deserve it. Yap, me-time itu perlu (bukan berarti me time harus keluarin uang ya, meskipun uang juga kadang bisa beli ini itu yang bikin bahagia wkwk), agak nyesel sebenernya gue baru kepikiran ide ini di tahun 2017 kemarin. Dengan faktor penunjang dua hal, baru kelar ujian dan dunia per-semester-tujuh-an, dan karena gue ulang tahun. So, dari H-1 bulan gue berniat nabung bit extra untuk dapetin budget lebih dari me-time biasanya, karna itu tadi, last exam and birthday. 

Kamis, 08 Maret 2018

(re)born


Thinking of my college life will be end in few months. Next gue mau ngapain ya? Throwing back jaman gue masih jadi remaja and fangirl anywhere, gue inget goals yang pengen gue capai di tahun-tahun penghujung duaribu belasan. Gue pengen rutin nulis, dan bisa publish buku. Berkaca pada kegiatan gue selama kuliah yang berkutat tugas besar, kuis, dan ujian, kayanya dunia persilabus-an gue sekarang dipenuhi kata kata ke-TL-an. Akan sedikit susah plus butuh effort untuk balik nulis dengan bahasa gue lagi. Tapi, since writing is my passion. Dimana tiap gue kelar nulis akan menghasilkan kepuasan tersendiri, dan mengingat academic goals gue cuma seputar Tugas Akhir. Then, gue balik nge-blog / nge-tumblr. Itung-itung keluarin racun, lah.


Throw back lagi, kayanya terakhir gue nulis hura-hura pas jaman MABA. Yep, dulu, sumpah, pengkaderan nguras waktu banget. Tapi gak lah ya ga akan bahas pengkaderan disini, gue bukan pakar, bukan "alumni" pengkaderan terbaik juga. Intinya, gue dah lamaaa banget gak nulis. "Tapi kan lo bikin majalah dan liputan di himpunan, fa". Beda, guys. Tahun 2015 dan 2016, yang gue tulis kebanyakan berita, sejenis soft news, artikel, which kontennya semua mikir, ditunjang data dan fakta, dan dikemas dalam bahasa yang gak bercandaan. Jadi sebegitulah gue learnin something new and challenging. Jadi tulisan gue gak seberapa receh banget, dan berbobot pada waktu itu.

Kamis, 13 Agustus 2015

Selesai.

Lembar demi lembar ku buka. Buku kecil usang itu penuh dengan coretan kisah masa remajaku, lebih tepatnya masa SMA. Guratan pena melontarkan huruf demi huruf membentuk kata dan berpadu merangkai kalimat. Bercerita tentang bagaimana dulunya aku berambisi menjadi yang terbaik di seantero kelas, tentang bagaimana rasa kecewa kala terdepak dari ekstrakulikuler bergengsi hanya karena aku bukan "dia" yang populer. Pun bagaimana aku memutuskan keluar dari organisasi hanya karena sesuatu yang cukup sepele, dan berkali - kali menjadi acuanku hingga akhirnya aku berhasil menebus kesalahan itu, dengan  menjadi ketua departemen sebuah organisasi di kampus. Dan semua program kerjaku berjalan lancar.

Namun sama seperti gadis lainnya, masa remajaku tak luput dari sesuatu yang bernama cinta. Aku merasakan rasa suka dan kagum berkali - kali, dan berhenti di satu titik, satu huruf berawalan D, bahkan hingga kini aku masih mencintainya. Teman sekelasku di masa SMA pula, yang sibuk menatap papan tulis dan mencatat. Membuka buku, dan belajar. Kau tidak lebih dari akademis, namun juga aktivis. Di sela - sela padatnya waktu belajar, kesibukanmu menjadi pengurus di organisasi berkelas, dan atletis di ekstrakulikuler, tidak menyurutkan sinarmu. Prestasimu tetap gemilang. Tak heran saat prom night, kamu berdiri gagah dengan suitan jas dan setangkai mawar putih dalam genggaman, kamu berdiri gagah dan bangga sebagai murid teladan. Kamu selalu menjadi bintang, di hati guru - guru, teman - temanmu, tanpa terkecuali aku.

Aku yang tak pernah kau sapa ataupun kau ajak berdiskusi. Yang hanya melengos pergi saat aku meminta bantuan. Yang tetap menatap kosong saat aku menginjak 17 tahun, dan teman -  teman disebelahmu bergantian menjabat tangan, memberi ucapan selamat. Kamu, sekedar menolehpun tidak. Yang membantuku mengerjakan soal saat menuju ujian, namun tidak membalas saat aku berterimakasih. Yang tetap melenggang pergi tanpa bertukar senyum saat berpapasan. Ah, aku tahu. Perlakuan dinginmu tak lebih karena ejekan kala kita mengerjakan proyek itu. Dan sejak itu, kita tak lagi bertukar sapa.

Seiring berjalan waktu sikapmu kembali hangat hingga hari kelulusan tiba. Hari yang aku tahu, hanya akan ada beberapa kesempatan untuk dapat berjumpa denganmu kembali. Beberapa, bahkan mungkin tidak. Karena kita terlalu sibuk dengan perjalanan hidup menuju masa depan, demi senyum orang tua yang terukir saat kita akhirnya memakai toga dengan bangga. Kembali berdiri tegak dengan gelar sarjana teknik kita. Dan hingga saat itu, aku masih saja mencintaimu. Masih saja mencintaimu, meski tidak satupun aku bertukar kabar denganmu.

Aku tersenyum, kembali memfokuskan dengan lembaran diary yang ku temukan di rumah lamaku. Aku baru kembali sebulan yang lalu dari pekerjaan proyekku di Sweden. Kembali pulang untuk sesuatu yang penting. Mengistirahatkan otot yang terlalu lama bekerja, mata yang terlalu lama berkutat pada layar, menelisik satu demi satu gambar pipa, berpindah dari apartemen menuju lokasi proyek. Setiap hari begitu.
Kembali pulang ke kota kelahiran. Ke pangkuan Ayah dan Ibu yang usianya semakin senja, namun jiwanya tetap hangat nan kokoh demi anak - anaknya. Bersendau gurau dengan adik yang beranjak dewasa. Ah, sudah lama sekali rasanya…

Aku menyesap secangkir teh hangat yang ibu sediakan pagi ini. Teh kesukaanku. Kemudian kembali mematut diri di depan cermin dan menghela nafas. Jantungku berdegup hebat. Diary cokelat usang masih dalam genggamanku, masih membuka lembarannya yang kian menguning. Hingga jatuh di halaman terakhir. Kosong. Dan ku tutup segera ketika ku dengar seseorang mengetuk pintu kamar.

"Andis, bergegaslah! Kau tidak ingin pengantin pria menunggu kan?" suara lantang Kayla, adikku, menerobos pintu kamar dan menusuk gendang telingaku seketika. Kemudian, ia membuka pintu.
"Sabarlah, beberapa menit takkan masalah baginya. Lagipula, masa menunggu kami sempurna selesai. Tidak akan ada lagi setelahnya. Hmm, kurasa 10 tahun bukan waktu yang cukup lama, ya? "

Ya, pagi ini pernikahanku dengan Damar, dan aku tidak pernah merasa sebahagia kali ini. Kurasa aku tahu apa yang akan ku tulis di lembar kosong terakhir di diary usangku. Love, D.



Kamis, 30 April 2015

Rinduku Pulang

POV 1

Bulir hujan merayap pelan membasahi permukaan kaca jendela. Aku melepaskan kacamata, menyeka kedua  mataku. Lelah. Pikiranku menguar, mataku menjamah tiap petak petak hamparan sawah dibalik suara hujan yang kian menderu.
"Ada yang perlu diselesaikan" batinku. Jemariku sibuk menari diatas layar ponsel,
merangkai huruf demi huruf, membentuk kata, dan akhirnya memoriku jatuh dalam satu sosok yang seharusnya kini ku lupakan.
Karena jauh di kampus selatan sana, rinduku akan pulang.

Senin, 16 Maret 2015

Dua Keping Kisah Lama #2

Sabtu, 29 September 2012

Tujuh bulan berlalu.. Tali pertemananku dengan Helen yang dulu sempat terputus, kembali ku ikat, benar benar erat. Perlahan tapi pasti, kami saling berbagi, sebagai sahabat. Helen sendiri yang memintaku begitu, sama halnya yang ia lakukan dengan si Mumun yang ada di dunia maya. Kini, ia dan Mumun tak lebih dari kata kakak dan adik. Begitu akrab. Ia ingin aku begitu, ia bisa mengandalkanku dikala ia butuh, begitu juga denganku. Paling tidak ia tak terlihat seperti mengharapkanku. Lagipula, selama ini aku tidak menyesal bersahabat dengannya, sungguh. Helen sangat menyenangkan.

Pagi ini begitu cerah, namun mulutku masih menguap lebar. Semalam pukul 11.30, aku menyelinap keluar rumah dan pergi ke rumah Asya, sendirian tanpa Helen. Karena rumah Helen terlalu jauh, dan ini tengah malam. Hanya dukungan dan doa yang ia berikan untukku. Ya, tepat 29 September, Asya berulang tahun ke 16 tahun dan kabar baiknya ia sedang tidak di Semarang. Semalam, blackforest yang sengaja kupesan di toko roti “Strawberry” ku berikan padanya. Tulisan “Happy Birthday Asya Andrian” dari cream menghiasi permukaan blackforest yang begituuuu lezat. Beruntunglah, aku tak perlu bertemu orang tuanya dulu untuk bertemu Asya. Dia sendiri yang membuka pintu. Ia terlihat begitu berbeda, meskipun masih memakai piyama bercorak kartun Snoopy, ia masih tetap cantik. Ah, Asya tak pernah sedetikpun terlihat tak cantik. Rambutnya yang dulu pendek sebahu kini panjang melebihi rambut Helen. Wajahnya memancarkan sinar kedewasaan. Matanya semakin berkilau. Ia bahagia, sekaligus kaget. Karena aku tak memberitahu kedatanganku sebelumnya, tentu saja karena ini semua ide Helen demi kejutan untuknya.

Dua Keping Kisah Lama #1

Note; cerpan ini dibuat pas kelas 10, pas jaman alay alaynya. Overall, ceritanya panjang banget dan boring. Ga ada gregetnya di alurnya, ya whatever jaman kelas 10 masih labil labilnya haha. Beberapa plot disini gabungan dari pengalaman nyata, makanya absurd.


“Kepingan Alan”

Senin, 30 Januari 2012 “Namanya Asya. Dia cantik, rambutnya panjang, keturunan setengah Jawa dan setengah Cina dan tentunya dia muslim. Aku mencintainya, sungguh. Tiga tahun yang lalu, aku mengungkapkan semua yang ku rasakan. Betapa aku menyayanginya. Dan dengan senyum yang teramat manis, ia menjawab ‘ya’. Singkat, tapi cukup untuk meledakkan hatiku. Sejak itu, kami berpacaran, lamanya dua tahun. Saat kami melanjutkan sekolah ke jenjang SMA, kami berpisah, ia berusaha menggapai cita citanya dengan bersekolah di SMK Farmasi, Semarang. Dan karena itu, kami harus mengakhiri kisah yang telah kami ukir bersama, pacaran jarak jauh pantang bagi kami. Tetapi meskipun begitu, aku tetap mencintainya.”

 Suitan terdengar membahana di kedua indra pendengarku, muka sumringah di tatapanku terlukis jelas. Semuanya kini menyorakiku. Kulangkahkan kakiku menuju bangku di temani sorakan tiada henti. Bahkan guruku Bahasa Indonesiaku, Bu Dwi, hanya nyengir kuda saat aku sibuk menghayati setiap ucapanku tadi. Ya, hari ini, Bu Dwi memberi tugas dadakan untuk menceritakan masa lalu, didepan kelas. Andre, teman sebangkuku, menceritakan bagaimana ia mempertaruhkan nyawa untuk mempertahankan seluruh koleksi komik Jepangnya dari ibunya sendiri, dan pada akhirnya ibunya menyita seluruh komik yang jumlahnya tiga kardus! Vanesa, betapa ia menyayangi ibunya. Kami semua terlarut dalam kesedihan yang ia rasakan empat tahun lalu, saat ibunya mengalami kecelakan yang hampir menyebabkan kakinya patah.

Sweet of Jingga, Rinai, Annora

Namaku Jingga. Dalam rindu yang tersemat manis dibalik satu senja, ku ceritakan kisah manis tentang aku dan rekahan kelopak hatiku yang mencercah sinar mentari, di sebuah sudut kota.

Namaku Rinai. Dalam secangkir cappucino yang di sajikan di sudut café dibalik semburat jingga, ku lantunkan nyanyian elegi tentang aku dan petikan harmoni hatiku yang merindu satu nada, di sebuah sudut kota.

Namaku Annora. Dalam belati yang menyayat merah  di balik temaram cahaya, ku goreskan lukisan abstrak tentang aku dan kanvas hatiku yang melangkah gontai, di sebuah sudut kota.


Ini kami dan secarik siluet kisah, tentang sakit hati.


PS :
Sedikit cuplikan tentang Kisah Jingga, Rinai, dan Annora. Doakan penulisnya istiqomah di sela sela kesibukannya. Well, kali ini, sakit hati begitu menginspirasi <3 p="">

Kamis, 19 Februari 2015

Piece of cake about me

50 fakta tentangku? Bolehlah kalian tau, tapi don't judge!
  1.  Simply, anaknya pemalu, krik krik dan butuh adaptasi lama. Tapi kalo udah akrab? Hahaha sampe lupa malu itu apa
  2. Cinta mati sama Harry Potter, disihir sama alur dan kehebatan berfikir bunda Jo
  3. Punya gadget dominasi warna putih
  4. Mahasiswi ITS, setengah nyasar di Teknik dan keinginan hati pengen masuk Sastra. Tapi yoweslah
  5. Ga bakal pernah bosen dengerin Taylor Swift nyanyi, bang Adam Levine boleh juga sih
  6. Alumni HPFI angkatan 2010. HPFI of The Week ke 9
  7. Mati kutu sama satu lagu, Love Somebody-nya Maroon 5
  8. Makanan favorit? Ketoprak.
  9. Lahir di Sengkang, Sulawesi Selatan. 16 Desember 1996.
  10. Berjilbab dari TK alhamdulillah.
  11. Outfit always pink
  12. Tergila gila sama angka 13
  13. Ice cream lover, walau badai menerpa

Sabtu, 03 Januari 2015

Entah

Aku tak tahu ini apa
Kamu, yang memintalku kelegaan saat aku melantunkan elegi
Kamu, yang memaksaku merangkai skenario canda tawa dalam imajinasi saat aku disesap kelabu
Kamu, dan matamu, dan kanvas itu yang mengulas senyuman dibawah kendali cerebrumku
Kamu, yang mengajariku untuk melawan takut akan ketinggian
Kamu, yang mengajariku mengembalikan semangat menulisku
Kamu, yang memaksaku melukis pelangi bahkan saat aku tak tahu warna apa yang kan ku ambil
Kamu, yang ku tahu, selalu bentangkan sayapku


Karena kamu, tokoh utama metropopku.


Kamis, 09 Oktober 2014

Timeline 2014

Dear readers
Back to me, Aufa Syarifatun Nisa, yang sekarang sudah berganti gelar dari siswi ke mahasiswi, hehehe
Udah setahun selama 2014 ini gue ga post apa apa di blog ini
Sebenernya banyaaaak banget cerita yang pengen gue ceritain, dari awal tahun Januari 2014, ujian praktek kelas 12, gimaa perjuangan gue belajar UN, SBMPTN dan dapetin PTN, lebih tepatnya kampus impian gue ITS.
Gimana mati matiannya gue bimbel cuma buat kata lulus dan lolos
Gimana gue akhirnya mendam perasaan ke temen gue hahahaha *abaikan
Gimana gue hidup sebulan di Surabaya pasca UN cuma buat pindah tempat bimbel
Gimana rasanya graduate, farewell party, sampe ketrima PTN lewat jalur undangan :)
Sampe pada akhirnya gue harus pisah sama temen temen SMA gue, apalagi Emil, Tami, Safira yang udah 6 tahun bareng. Dan ketemu temen temen baru disini, di jurusan gue.

Kamis, 26 Desember 2013

Mimpiku, 2014



Tentor tempat bimbelku sering bilang gini;

"Institut Teknologi Sepuluh Nopember? Nggak kalah bagus kok. Tenang aja udah di dobrak sama kak Khisni (Teknik Mesin), disusul kak Ayu La Haura (Teknik Kimia), dan kemarin kakak kelasmu kak Arif Imbang (Teknik Material & Metalurgi) juga nyusul kesana..."



Tahun depan, mereka harus bilang gini..




"Oh, ITS. Kakak - kakak kelasmu nggak sedikit yang lari ke Jawa Timur dari jamannya kak Khisni (2011), terus kak Ayu La Haura (2012), kak Arif Imbang (2013), dan kemarin.....kak Aufa (2014)"


Bismillahirrahmanirrahim
Itu motivasi, dan targetku.
Do'akan ya.
Allahumma yassir wala tu'assir :)

Jumat, 22 November 2013

Sorry?

Pernah dijauhin sama seseorang yang nggak pernah kamu duga sebelumnya?
Pernah dijauhin gara gara kamu nggak salah apa apa?
Pernah dijauhin yang bikin geli plus risih, dan ujung ujungnya sering kepikiran?
Dijauhin, enak nggak sih?
Emang kamu bener bener salah segitunya yah?
Eh emang salah kamu apasih?
Yakin nih yang salah emang kamu?
Atau yang salah sebenernya temen kamu?
Kok kamu yang dijauhin
Dia kan temenmu, kan kamu juga masih butuh dia. Kalau dijauhin gini, nggak nyaman banget kan?

Well, ever feel invisible? Haha, gue lagi ngalamin ini.



Sabtu, 28 September 2013

Aku Adalah...


Kata - kata "Aku adalah..." merupakan kata - kata yang kuat; berhati- hatilah dengan apa yang kamu tuliskan setelah kata - kata itu. Hal yang kamu katakan akan memantul dan menuntutmu.- A.L. Kitselman






Aku adalah seorang ARSITEK; Aku telah membangun suatu fondasi yang mantap; dan setiap tahun aku kembali ke sekolah itu, menambahkan lantai kebijakan dan pengetahuan lain.



Aku adalah seorang PEMATUNG; Aku telah membentuk moral dan filosofiku menurut tanah liat yang menyandang nilai benar dan salah.



Aku adalah seorang PELUKIS; Dengan setiap gagasan baru yang kuungkapkan, aku melukiskan suasana baru dalam aneka warna dunia.

Kamis, 05 September 2013

Besties Sweet 17th♥


Hai readers, kali ini gue akan bercerita tentang sweet seventeen ketiga sohib gue.

Ketiga? U mean tiga tiganya?

Yep! Kenalin nih sohib sohib gue dari SMP. Ada Emilia Khaerunnisa, cewe berbehel calon arsitek yang tulisannya baguuus banget dan punya daya kreativitas paling tinggi diantara kita berempat. Terus ada Safira Nadwa Adauli, yang paling kecil dan punya adik super kece yang nurut kalo di bully, calon insinyur elektro. Then, Muamila Tami, calon bu guru fisika yang cabul, pinter akting, dan paling gokil gegara candaannya yang renyaaah bgt kayak wafer. Haha. Kita berempat sahabatan udah hampir 5 tahun, kecuali gue sama Tami yang lebih dulu menjalin persahabatan #ea, udah 6 tahun lamanya.

Bosen? Ya enggak sih, so far mereka seru seru aja. Masih asik. Masih konyol rempong gilak kayak kalo kita ngumpul biasa.

Nah, ketiga sohib gue tuh, ulang tahunnya ber-u-ru-tan. Emil di tanggal 29 Agustus, Safira 31 Agustus dan Tami di 5 September. Gue? Misah sendiri, menjelang akhir tahun, bulan penuh salju dan penuh hujan *gimana jadinya?*



Okay, jadi dimasa remaja ini, momen sweet seventeen bisa dibilang cukup penting. Kenapa? Simple, a lot of people said that it's a first step to be mature. Bener gak sih? Umur 17 itu bisa dibilang masa peralihan menuju dewasa. Bisa jadi, tapi gak bisa jadi juga #lukateapafa?. Dewasa itu kan gak mesti dilihat dari umur, ada yang masih 11 tahun tapi penampilannya udah dewasa kayak tante tante #gakgitu muahaha

Ngaco mulu dari tadi, ya gitu deh intinya banyak orang beranggapan sweet seventeen itu penting! Gak ada kan, yang nge-spesial-in sweet fifteen, sweet sixteen, or maybe sweet twenty? It's so rare

And yeeesss sebagai sohib yang baik dan penuh cinta, gue dan bantuan ketiga sohib gue bikin surprise atau seenggaknya ngrayain this little moment buat ketiga sohib gue lagi #mikirkeras

Haha



FIRST SWEET SEVENTEEN, EMIL.



Kejutan yang takkan indah jika dilihat dari materi, gunakan hati.


 

Pagi 29 Agustus, kita bertiga (gue tami fira) nyuekin itu anak abis abisan. Gak nyapa, gak ngliat, malah kesannya ngehindar. Haha, pas pulangnya nih, kita sepakat dari bawah balkon bawa kertas tulisan happy sweet seventeen + cupcake. Terus keluar deh si emil lewat balkon sesuai rencana dan ngliat tulisan kita dari atas.